Penguatan ekonomi Amerika Serikat (AS) serta dampak kebijakan tarif, juga menahan proses disinflasi di Amerika Serikat. Hal ini berdampak pada menguatnya ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih terbatas.
Selain itu, penguatan mata uang dolar AS pascapemilu AS juga turut mempengaruhi pandangan investor terhadap aset-aset berdominasi rupiah, termasuk saham-saham blue chip seperti saham perbankan.
“Untuk faktor internal yang mempengaruhi, antara lain tentu kondisi likuiditas pasar dalam menyikapi situasi perekonomian global dan domestik yang masih belum stabil serta penurunan daya beli masyarakat,” kata Dian.
Sebagai informasi, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat penurunan harga saham yang paling dalam di antara bank-bank KBMI IV dalam tiga bulan terakhir, yakni sebesar 24,08 persen.
Pada penutupan perdagangan Selasa, BMRI turun 1,22 persen ke level Rp4.840 per lembar.
Bank-bank lain juga mencatat penurunan harga saham dalam tiga bulan terakhir, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 15,63 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 14,75 persen, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 13,24 persen.














