Setelah penjualan tersebut, ADRO mengalihkan fokusnya ke batubara metalurgi dan pengolahan mineral melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), serta energi terbarukan. Langkah ini memungkinkan setiap lini usaha untuk beroperasi dengan strategi dan arah pertumbuhan yang lebih jelas, sekaligus memberikan transparansi yang lebih baik bagi investor di masing-masing sektor.
Menutup tahun 2024, pemegang saham ADRO telah menyetujui pembagian dividen interim sebesar US$200 juta, yang dibayarkan pada 15 Januari 2025. Selain itu, MSCI telah meningkatkan peringkat ESG ADRO dari BBB menjadi A, menjadikannya perusahaan pertama di sektor pertambangan batu bara Indonesia yang memperoleh peringkat A dari MSCI.
Kedua, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). MDKA menutup tahun 2024 dengan mencatatkan pertumbuhan produksi yang solid, efisiensi biaya, dan pencapaian proyek yang signifikan. Tambang emas Tujuh Bukit (TB Gold) berhasil memproduksi 115.867 ons, memenuhi targetnya dengan total biaya sebesar USD1.017/oz, biaya berkelanjutan (AISC) sebesar USD1.337/oz, dan ASP sebesar USD2.371/oz. Tambang tembaga Wetar sebaliknya menghasilkan 13.902 ton, yang masih sesuai dengan target yang ditetapkan dengan biaya produksi sebesar USD2,63/lb dan biaya keberlanjutan atau AISC sebesar USD3,58/lb.














