JAKARTA-Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengingatkan tradisi orator adalah tradisi para pemimpin Indonesia. Indonesia ini adalah negara yang lahir dalam krisis perang perundingan dan perang ditengah-tengah panggung yang bergolak, bulan panggung yang tenang.
“Itulah sebabnya agak sulit bagi orang Indonesia sebetulnya kalau pemimpinnya bukan orator, sulit bagi orang Indonesia. Karena kita tumbuh dan lahir dengan tradisi panggung,” kata Fahri saat menjadi narasumber di acara Bintang Orator Radio Parlemen di Loby Nusantara II Gedung DPR RI, Senin (5/2/2018).
Menurut dia, pemimpin-pemimpin nasional buka hanya Bung Karno saja, kalau mendengar atau membaca dokumentasi tentang rapat-rapat BUPKI, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), maupun Konstituante. Apalagi dalam tradisi parlementer dulu, itu orator-orator semua di dalamnya.
“Maka Indonesia tumbuh tanpa pemimpin orasi, itu kurang top. Dan juga pemimpin itu, harusnya hari-hari dia berorasi kepada bangsanya untuk meyakinkan arah dari bangsa itu. Itu yang didalam istilah yang ditemukannya pada zaman Roosevelt dulu itu,” terangnya.
Roosevelt itu, tambah politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, adalah pemimpin Amerika Serikat yang melahirkan istilah Bullypulpit dimana dia bisa menggunakan panggung orasi podium presiden AS untuk meyakinkan bangsanya tentang satu arah yang besar. Roosevelt saat itu bisa meyakinkan bangsanya supaya mau bergotongroyong, ketika akan membangun infrastruktur lintas Amerika.













