Sekitar 37% dari dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi bisnis eksisting.
Kemudian, sebesar 13,75% dialokasikan untuk mendukung ekspansi bisnis baru.
Selebihnya sebesar 49,25% dipakai untuk memenuhi kebutuhan modal kerja Perseroan.
“Perseroan hadir untuk memanfaatkan potensi besar dari sektor ritel gaya hidup yang terus berkembang di Indonesia. Ditambah lagi kegiatan konsumsi merupakan penopang terbesar untuk pertumbuhan ekonomi nasional hingga saat ini,” jelas Djohan Sutanto, Direktur Utama ERAL, dalam keterangan resmi usai IPO di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (8/82023).
Dalam aksi korporasi ini, ERAL dibantu oleh PT BNI Sekuritas dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Setelah IPO, komposisi pemegang saham ERAL menjadi PT Erajaya Swasembada Tbk 79,9998%, masyarakat 19,9764%, Employee Stock Allocation (ESA) 0,0236%, dan Jemmy Hady Wijaya 0,0002%. (ANES)














