Namun, yang terpenting adalah bidang pendidikan sebesar 3 persen dengan nilai Rp160 triliun dan kesehatan sebesar 8 persen dengan nilai sekitar Rp476 triliun.
Dua hal tersebut sangat penting karena membantu generasi emas (golden generation), generasi penerus Indonesia.
“Pendidikan sangat penting, hari ini, lulusan SMA hanya 60 persen dari angkatan kerja. Di masa yang akan datang harus dikonversi menjadi 99 persen. Untuk mengejar hal tersebut, harus didukung teknologi pendidikan,” jelasnya.
Terkait kesehatan, lanjutnya, setiap dokter yang lulus harus menanggung 600 pasien baru.
“Oleh sebab itu, kita harus mendapatkan teknologi untuk memberikan layanan kesehatan kepada angkatan kerja muda,” tandasnya.
Lutfi menjelaskan, pada 2020, ekonomi digital Indonesia tercatat sebesar USD 44,0 miliar akan tumbuh delapan kali lipat menjadi USD 323,6 miliar pada 2030.
Artinya, akan tumbuh enam kali lebih besar dibanding Malaysia, tujuh kali lebih besar dibanding Filipina, sembilan kali lebih besar dibanding Singapura, dan empat kali lebih besar dari Vietnam.
“Jika indeks per kapita naik dari USD 162,8/kapita menjadi sama dengan Malaysia sebesar USD1.403,1/kapita, maka ekonomi digital Indonesia tumbuh menjadi USD 417 miliar. Ini merupakan salah satu yang paling besar,” terang Lutfi.













