Upaya lainnya yakni Jatim juga akan segera membangun sistem single window untuk mempermudah sistem control /tracking. Sistem itu nantinya bukan saja mengintegrasikan antar pelabuhan, tetapi untuk semua kontrol barang keluar masuk ke Jatim. “Sistem ini nantinya juga merupakan salah satu bentuk kebijakan untuk membatasi banyaknya barang yang masuk ke Jatim, sekaligus melindungi konsumen lokal,” terangnya.
Mengenai penguasaan bahasa, ia menuturkan, ada beberapa sekolah di bawah kendali pemerintah, yang diberikan subsidi untuk kegiatan kursus bahasa asing. Saat ini Pemprov juga telah menerbitkan surat edaran (SE) untuk penguasaan bahasa arab dan china. “Semua generasi muda utamanya harus mampu menguasai bahasa inggris,” tegasnya.
Kekuatan daya saing Jatim, terangnya, berdasarkan data yang ada mampu memberikan kontribusi terbesar ke-2 se Indonesia, setelah DKI Jakarta. Kinerja makro ekonomi Jatim jika dilihat dari nilai absolut Produk domestik Regional Bruro (PDRB) memperlihatkan effort kinerja signifikan dari Rp. 684,22 trilyun tahun 2009 menjadi Rp. 1.136,33 trilyun. “Berdasarkan data tersebut Jatim bisa disebut sebagai pusat ekonomi utama di Indonesia Timur,” ungkapnya.
Sedangkap dalam lingkup regional ASEAN, PDRB Jatim teridentifikasi setara dengan 2/3 perekonomian Vietnam. Kinerja ini tentu membanggakan karena percepatan ekonomi jatim terjadi dalam kontraksi ekonomi dunia. “Kinerja perdagangan juga menunjukkan surplus dan selalu menjadi pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.Dengan demikian Jatim layak menjadi tujuan investasi jelang MEA 2015,” tukasnya.















