Obligasi PALM ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 Maret 2024.
Lim mengemukakan, seluruh dana yang diperoleh dari penawaran umum obligasi ini, setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, akan digunakan untuk dua keperluan.
Pertama, sebesar US$70 juta atau sekitar Rp1,094 triliun akan digunakan oleh Perseroan untuk melakukan pembayaran dipercepat atas pokok utang Perseroan kepada United Overseas Bank Limited (Bank UOB) berdasarkan perjanjian fasilitas untuk fasilitas kredit bergulir sebesar US$75 juta pada 31 Agustus 2023 antara Perseroan sebagai peminjam dan Bank UOB sebagai pemberi pinjaman dan arranger (Perjanjian Fasilitas Kredit Bergulir US$75 juta).
Pada 27 Februari 2024, Perseroan telah melakukan penarikan sebesar US$70 juta atau sekitar Rp1,094 triliun.
Perseroan akan melakukan pembayaran pokok utang sebesar US$70 juta atau sekitar Rp1,094 triliun, sehingga saldo kewajiban Perseroan dalam Perjanjian Fasilitas Kredit Bergulir US$75 juta setelah pembayaran dapat menjadi nihil.
“Asumsi nilai kurs yang digunakan untuk mentranslasi kewajiban keuangan dalam mata uang Dolar AS adalah nilai kurs transaksi tengah Bank Indonesia per 27 Februari 2024 sebesar Rp15.635/US$,” katanya.
Kedua, sisanya akan digunakan oleh Perseroan untuk penyetoran modal kepada PT Suwarna Arta Mandiri (PT SAM) yang akan menyebabkan Perseroan akan tetap memiliki 99,99% kepemilikan saham dalam PT SAM, yang selanjutnya akan digunakan untuk mengembangkan lima portofolio investasi dalam bentuk pembelian saham pada satu atau lebih perusahaan tercatat di sektor sumber daya alam, teknologi, media dan telekomunikasi, dan/atau logistik, atau efek bersifat ekuitas lainnya.
Penyetoran modal kepada PT SAM akan dilakukan secara bertahap oleh Perseroan sesuai dengan kebutuhan dana PT SAM untuk pengembangan portofolio investasi.
“Ditargetkan akan selesai seluruhnya paling lambat pada kuartal kedua tahun 2024,” katanya












