“Nah, ini membuat di pasar keuangan terjadi pembalikan ya beberapa investor, dan juga mungkin beberapa spekulan yang tadinya beli dollar lebih awal mereka melakukan cut loss di, di pasar keuangan. Ini juga terjadi di, di kita lihat di selain di Indoensia juga di Malaysia di negara-negara emerging market yang lain,” tutur Mirza.
Sementara faktor internal, lanjutnya, respons positif pasar melihat dari komitmen pemerintah melakukan deregulasi.
Paket kebijakan ekonomi Jilid I, II dan III disambut positif yang menunjukkan bahwa pemerintah serius melakukan structural reform.
“Nah, structural reform ini mulai dari pariwisata, juga dari bagaimana perizinan-perizinan di berbagai sektor, ini tentu dalam jangka menengah panjang akan menurunkan inflasi, dan juga dalam jangka menengah panjang akan menambah suplai valas di Indonesia,” kata Mirza.
Positifnya respon pasar atas paket ekonomi tercermin pada menguat pasar valuta asing rupiah yang cukup signifikan tiga hari ini.
Demikian juga pasar obligasi negara yang menyambut sangat positif.
“Yield obligasi negara yang rate-nya sempat naik mendekati 10% per hari ini sekitar 8,4%. Artinya, kalau rate-nya turun, ongkos pembiayaan pemerintah untuk membiayai APBN itu juga artinya turun ya membaik,” pungkasnya.















