“Dalam olahraga, sebagaimana kehidupan, hasil dari sebuah pertandingan olahraga adalah penting. Namun demikian, bermain dengan baik dan jujur jauh lebih penting. Saya yakin bahwa pertemuan tiga hari ini, mendorong kita semua untuk mengeksplor lebih jauh tentang kebaikan dari olahraga dapat diberikan kepada masyarakat dunia,” ujar Paus Fransiskus sebagaimana diungkapkan Pastor Markus Solo.
Selain mengutuk korupsi dalam tubuh olah raga, Paus Fransiskus juga menyerukan agar para atlit olah raga bebas dari doping serta mendorong para atlit untuk menggunakan olah raga sebagai pengembangan personal dan kesetiakawanan.
Sekjen PBB Ban Ki-moon mengharapkan dan segaligus menekanakan, pentingnya peranan olah raga sebagai sarana untuk memajukan nilai-nilai luhur bagi kemanusiaan, persatuan, perdamaian, kerukunan, integritas jasmani dan rohani.
Secara jelas Ban Ki-moon menegaskan bawa olah raga tidak mengenal diskriminasi, dan membuka kesempatan untuk semua orang terutama di negara-negara berkembang.
Sejalan dengan Ban Ki-moon, Thomas Bach menjelaskan bahwa olah raga dan iman merupakan kehormatan bagi martabat serta derajat yang sama bagi seluruh umat manusia.
“Di dunia olah raga, seperti halnya kepercayaan, kita semua sama. Ada hukum universal bagi olah raga. Prinsip persamaan, dan tidak ada diskriminasi mengijinkan baik olah raga dan kepercayaan untuk mempromosikan nilai-nilai solodaritas dan perdamaian,” ujar Ban Ki-moon.












