Salyadi mengungkapkan, per akhir Semester I-2020 jumlah mandat penerbitan obligasi diterima Pefindo yang belum mencapai Rp74,16 triliun.
Jumlah ini didominasi oleh perbankan sebesar 13,48 persen, multifinance 11,87 persen dan jalan tol sebesar 10,59 persen.
“Sebesar Rp74,16 triliun ini yang pasti tidak bisa semua terealisasi di tahun ini. Karena, tren penerbitan surat utang yang sedang menurun,” imbuhnya.
Lebih lanjut Salyadi mengatakan, realisasi penerbitan surat utang korporasi per akhir Semester I-2020 sebesar Rp30,03 triliun yang didominasi multifinance (Rp4,04 triliun, lembaga keuangan khusus (Rp4 triliun) dan perbankan (Rp3,69 triliun).
Tenor jangka pendek dan menengah (satu tahun, tiga tahun dan lima tahun) masih mendominasi penerbitan surat utang korporasi.
“Hingga akhir Semester I-2020, pertumbuhan penerbitan surat utang korporasi cenderung melambat. Terlihat dari penerbitan surat utang listed sebesar Rp29,28 triliun atau lebih rendah dibanding periode yang sama di 2019 yang mencapai Rp53,52 triliun. Outstanding surat utang korporasi di 2020 ini juga turun menjadi Rp460,23 triliun dibanding 2019 sebesar Rp474,46 triliun,” ungkap Salyadi












