“Akses yang lebih lemah ke pendanaan eksternal juga akan membuat WSKT menghadapi risiko likuiditas dan pembiayaan kembali yang lebih tinggi. Peringkat juga dapat diturunkan, jika terjadi penurunan dalam pencapaian kontrak baru secara substansial yang berdampak pada visibilitas pendapatan WSKT yang tidak memadai,” papar Yogie.
Dia menjelaskan, obligor dengan peringkat idBBB memiliki kemampuan yang memadai —dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya— dalam memenuhi komitmen keuangan jangka panjang.
“Walaupun demikian, kemampuan obligor lebih mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi,” ujarnya.
Menurut Yogie, Efek utang dengan peringkat idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan oleh Pefindo.
Kemampuan emiten untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka panjang atas Efek utang tersebut dibandingkan emiten Indonesia lainnya adalah superior.
Sementara itu, akhiran ‘gg’ yang mengikuti peringkat Obligasi III-2021 milik WSKT tersebut menunjukan adanya pertimbangan keamanan dalam bentuk garansi dari pemerintah.
Peringkat perusahaan mencerminkan peran penting WSKT kepada pemerintah, posisi pasar yang kuat di sektor konstruksi dan keuntungan sebagai perusahaan konstruksi milik negara.















