Lebih lanjut Niken menjelaskan, obligor dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan (idAAA) dan memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen-komitmen keuangan jangka panjang, dibandingkan dengan obligor di Indonesia lainnya.
Sementara itu, tanda minus (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan berada di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan.
Peringkat JSMR mencerminkan dukungan yang kuat dari pemerintah terkait penyelesaian proyek jalan tol, posisi dominan perseroan pada sektor jalan tol, portofolio jalan tol yang terdiversifikasi dengan periode konsesi yang panjang dan fleksibilitas keuangan yang sangat kuat.
“Peringkat JSMR dibatasi oleh struktur permodalan yang agresif dalam jangka pendek hingga menengah dan risiko bisnis terkait dengan jalan tol baru,” ucap Niken.
Dia mengatakan, peringkat JSMR bisa saja dinaikkan, jika perusahaan pelat merah ini mampu memperbaiki struktur permodalan dengan mengurangi jumlah utang.
Selain itu, jika jalan tol baru bisa secara konsisten menarik volume arus lalu lintas yang lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
“Atau, jika kami melihat ada dukungan dari pemerintah yang lebih kuat,” imbuhya.














