Hasilnya, pemerintah berhasil membangun, antara lain jalan sepanjang 3.387 km, jembatan 41,1 km, 164 unit jembatan gantung, 10 bandara baru, 19 pelabuhan, LRT di Sumatra dan Jadebotabek, MRT di Jakarta, jaringan serat optik ‘Palapa Ring’, 55 waduk, embung, serta jaringan irigasi.
“Empat tahun di zaman Pak Jokowi, kita membangun jalan tol sepanjang 782,4 km. Sampai 2019 nanti, akan sepanjang 1.852 km,” beber Moeldoko.
Pembangunan beragam infrastruktur menciptakan konektivitas, meningkatkan efisiensi, produktivitas, daya saing, juga mendorong berkembangnya ekonomi digital serta membuka akses komunikasi. Ini diakui oleh para peserta seminar yang sebagian besar berasal dari kalangan pengusaha di Jawa Timur.
Dalam polling yang berlangsung sepanjang seminar, 64% peserta mengaku, infrastruktur mempermudah transportasi dan distribusi. Kemudian, 29% menyebut, infrastruktur meningkatkan efisiensi.
Sementara itu, ekonom Universitas Surabaya (Ubaya), Suyanto, menambahkan, pembangunan infrastruktur dapat menciptakan sentra pertumbuhan ekonomi baru. Di Jawa Timur, pengembangan sentra pertumbuhan ekonomi baru itu digeser di sekitar jalur Lintas Pantai Selatan (Pansela).
Lintas Pansela ini merupakan jalan hambatan atau tol sepanjang 680,13 kilometer, yang menghubungkan sejumlah daerah di Jawa Timur. Di jalur tersebut, salah satu sentra pertumbuhan ekonomi baru andalan Jawa Timur adalah Banyuwangi.














