Nurhaida juga mengemukakan bahwa untuk meningkatkan likuiditas pasar surat utang di Indonesia, OJK bekerjasama dengan Bank Dunia melakukan pemetaan serta perbandingan dengan negara tetangga. “Kita akan membandingkan dengan negara lain, dengan demikian akan terlihat jika ada yang kurang, bisa dari peraturannya, insentif atau yang lain,” kata dia.
Dibandingkan negara lain, lanjut Nurhaida, nilai surat utang Indonesia masih minim dibanding negara tetangga, padahal pasar keuangan Indonesia memiliki prospek yang positif. Nilai surat utang di pasar modal Indonesia tidak lebih dari Rp200 triliun. Hal itu sangat berbeda jauh dengan negara lainnya seperti Malaysia dan Singapura yang sudah di atas Rp200 triliun.
Untuk mencari kendala itu, Nurhaida mengatakan, OJK telah membentuk tim melakukan kajian sehingga dapat diketahui kendala-kendalanya agar dapat diperbaiki. “Kita akan cari apa saja masalahnya, kemudian nanti kita coba untuk mengatasinya, misalnya kendala di perpajakan, apakah nanti bisa diberikan insentif pajak nantinya,” pungkasnya. **cea














