“Hampir semua developer menghadapi tantangan yang cukup berat, termasuk dampak dari pandemi Covid-19. Meskipun daya beli pasar tetap ada, konsumen memilih untuk menunda pembelian atau investasi. Penjualan properti masih didominasi pasar end user, terutama di segmen menengah ke bawah,” tutur Archied.
Namun demikian, dia mengaku bahwa DILD mampu mempertahankan kinerja usaha. Hal ini tercermin dari, total pendapatan DILD di Kuartal I-2020 sebesar Rp830,6 miliar atau menurun 6,4 persen (year-on-year).
Menurut Archied, penurunan pendapatan di tiga bulan pertama tersebut disebabkan oleh penurunan pengakuan pendapatan dari segmen mixed-use & high rise dan kawasan perumahan.
Pendapatan pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi terbesar, yakni mencapai Rp546,8 miliar atau 82,3 persen dari keseluruhan.
Perolehan itu bersumber dari segmen pengembangan mixed-use dan high rise senilai Rp455,1 miliar dan kawasan perumahan sebesar Rp91,7 miliar.
“Pada Kuartal I-2020, kami juga melakukan penjualan lahan seluas 3,2 hektar di Surabaya senilai Rp58,3 miliar. Lahan ini masuk kategori inventori, bukan termasuk aset utama yang akan dikembangkan dalam waktu dekat,” papar Archied.
Dia menyebutkan, DILD juga memperoleh pendapatan usaha yang bersumber dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) senilai Rp159,6 miliar atau sebesar 17,7 persen dari total pendapatan usaha.











