Menurutnya, keterhubungan hulu sampai hilir memang penting, tapi jangan terlalu panjang.
“Pertanian modern tidak hanya dalam arti teknis, tapi juga rekayasa sosial, kelembagaan, SDM, teknologi, permodalan. Ini tidak hanya menangani aspek hulu dan on farm, tapi juga sampai hilir. Sampai pasarnya kalau perlu,” terangnya.
“Kalau di data BPS rantai pasok untuk beras saja contohnya 7 (sampai) 9 titik. Kita perpendek itu (agar) bagaimana petani langsung ke konsumen. Cukup 3 atau 4 rantai pasok. Jadi kalau secara equity, semakin banyak margin, semakin banyak orang menikmati. Tetapi kepanjangan margin, efisiennya berkurang,” ungkap Suwandi.
Mengenai rantai distribusi beras, berdasarkan hasil survei pola distribusi tahun 2024 yang dikerjakan BPS, menunjukkan bahwa pendistribusian beras dari produsen hingga ke konsumen akhir, dapat melibatkan 1 sampai dengan 7 pelaku usaha perdagangan.
Hasil survei juga mengindikasikan bahwa berdasarkan pola utamanya, kenaikan harga beras dari produsen hingga ke konsumen akhir adalah 18,72 persen.














