Selain faktor eksternal, dia menilai penyebab lain tertekannya nilai tukar rupiah ialah faktor internal atau domestik, yaitu adanya defisit transaksi berjalan. “Presiden terus mengikuti perkembangan fluktuasi dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kondisi perekonomian secara keseluruhan, termasuk global,” ujar dia.
Senada dengan Julian, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Destry Damayanti menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS lebih besar disebabkan oleh isu tapering-off dari kebijakan quantitative easing Federal Reserve AS. “Pelemahan nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir ini, terutama disebabkan oleh faktor eksternal terkait dengan ketidakpastian isu tapering The Fed,” kata dia dalam seminar di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta, Senin (2/12).
Menurut Destry, ketidakpastian pemberlakuan tapering oleh The Fed telah memicu berbagai ekspektasi, sehingga rupiah bergerak liar yang cenderung mengarah pada tren pelemahan. “Isu tapering telah menimbulkan berbagai ekspektasi mengenai rupiah dan pada akhirnya rupiah tertekan,” ucapnya.
Destry mengatakan, pengaruh lain yang menyebabkan pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik. Pengaruh internal ini, jelas dia, juga disebabkan oleh ketidakseimbangan dari faktor eksternal. “Hal ini tercermin dari current account deficit yang besar. Tetapi, ini seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi kita sejak 2011,” tuturnya.















