Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi menyebabkan tingginya kebutuhan terhadap dolar AS. “Kalau kita bicara current account deficit, maka terlihat kebutuhan dolar AS buat impor atau membayar repatriasi keuntungan yang dibawa keluar negeri jumlah lebih besar daripada supply dolarnya,” papar Destry.
Namun, kata dia, faktor yang paling mempengaruhi tingginya defisit neraca transaksi berjalan ada pada kegiatan impor minyak. “Jadi, apa pun yang dilakukan BI Â melalui kebijakan moneternya tidak akan mengubah banyak current account deficit,” jelasnya.
Â















