Eric mengatakan harga komoditas mungkin bisa membaik tahun depan yang tentu saja menguntungkan Indonesia. Namun masih ada faktor risiko pertumbuhan ekonomi China yang diproyeksi melambat. “Ini bakal berpengaruh ke penerimaan perpajakan dari migas dan sumber daya alam,” katanya.
Dari sisi belanja, pemerintah juga terpaksa harus memangkas Rp12,9 triliun menjadi Rp2070,5 triliun tahun depan. Namun menurut Eric penurunan belanja masih relatif tidak banyak. Hal ini menunjukan sifat ekspansif dari kebijakan fiskal masih dipertahankan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. “Asumsi pertumbuhan ekonomi 2017 di 5,3 persen lebih realistis sementara angka inflasi di 4 persen mencerminkan sikap hati-hati karena inflasi tahun depan saya perkirakan di kisaran 3,5 – 4 persen,” urainya.















