“Dengan adanya petani yang semakin berdaya, kedaulatan pangan nasional dapat terwujud. Optimisme seperti ini yang perlu terus dibangun,” tutur Jokowi.
Untuk menunjang kedaulatan pangan tersebut, jelas Presiden Jokowi, Indonesia tidak boleh lagi hanya bergantung pada beras.
“Budaya beras harus dikurangi, dan diversifikasi pangan lokal harus dikembangkan seiring dengan reformasi agraria yang dijalankan pemerintah,” papar Jokowi.
Mengutip data, Presiden Jokowi menyatakan konsumsi beras dunia saat ini mencapai lebihdari 450 juta ton per tahun dan singkong sekitar 242 juta ton.
Dengan kebutuhan seperti itu, kata Presiden, ada peluang bagi Indonesia untuk bias member makan dunia kalau petani kita berdaya dan terorganisir dengan baik.
Ia menegaskan, mustahil swasembada pangan, kedaulatan pangan, dan surplus pangan dapat terwujud kalau petani tidak berdaya dan tidak terorganisir.
Presiden lantas menyinggung pidatonya dalam Pembukaan Konferensi Asia Afrika 22 April 2015, bahwa masa depan dunia ada di sekitar garis katulistiwa.
“Sinar matahari yang terus menerus akan membuat produksi pangan, termasuk energy dan air, akan tetap melimpah. Dan kita hidup di wilayah ini,” kata Presiden.
Karenaitu Presiden mengingatkan, pemberdayaan petani jangan hanya jadi slogan atau bahkan wacana kampanye politik.












