Ia juga menyebutkan, kebijakan pengurangan subsidi BBM itu akan berlanjut sekalipun nilai kurs Rupiah melemah dibanding dollar AS.
“Nanti pada ujungnya diawal tahun depan akan terlihat hasilnya,” terang Wapres.
Menurut Wapres, dengan adanya stabilitas kurs ini akan menyebabkan investasi lebih cepat karena yang punya uang untuk investasi di Indonesia dari ukuran mereka akan lebih murah. Karena harga-harga pasti mereka hitung dalam dolar.
“Jadi, situasi yang seperti ini merupakan peluang, bukan masalah,” paparnya.
Tahun Depan
JK mengatakan, efek dari menurunnya nilai mata uang Rupiah itu nanti bisa dirasakan bersamaan pada saat efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan mulai efektif tahun depan.
Artinya, kata JK, pada saat anggaran tahun depan sudah mulai efektif, karena kita sudah dua bulan menaikkan BBM, dan menyelesaikan pembayaran ke pertamina, sehingga subsidinya langsung menurun di bidang konsumtif.
Adapun mengenai kestabilan nilai Rupiah, JK mengakui tergantung juga pada batasan pertumbuhan ekonomi di AS .
Namun Wapres memperikan, pertumbuhan ekonomi di AS tidak mungkin seperti di China, 7-8 persen. Paling-paling sekitar 3-4 persen.
“Kalau Amerika tumbuh maka impornya naik, dan impor paling banyak itu dari China dan Indonesia. Kalau manufaktur di China naik karena itu maka imbasnya ekspor kita ke China juga baik. Jadi akan meninmbulkan stabilitas baru. Apakah itu diangka Rp 12.500 atau Rp 13.000 yang penting stabilitas naik,” terang JK













