Super koridor berbasis TI tersebut akan mendukung regulasi dan standarisasi barang yang telah diatur dalam Pergub. “Ini yg dimaksud dengan regulasi di bidang teknologi, dimana teknologinya disesuaikan dengan standar dalam Pergub. Kita harus meloncat lebih tinggi dengan infrastruktur TI” ujarnya.
Disisi lain, jika regulasi terhadap barang impor diperketat, maka kualitas barang lokal juga harus ditingkatkan. Oleh sebab itu, Pemprov telah melakukan studi dan riset dari negara yang sudah berhasil menerapkan standarisasi barang, salah satunya adalah Jerman. “Kami ingin nanti barang yang kita pasarkan benar-benar produk yag berkualiats, berstandar internasional, dan keistimewaannya, ditambahi label ‘halal’ “ kata Pakde Karwo.
Pakde Karwo optimis, super koridor berbasis TI akan membuat laju pertumbuhan ekonomi Jatim semakin pesat dan menjadikan Jatim sebagai pemenang dalam AEC 2015. Apalagi sejumlah infrastruktur lainnya juga telah dioperasikan, seperti Terminal Multipurpose Teluk Lamong, Terminal 2 Bandara Internasional Juanda. Selain itu, sejumlah program peningkatan kualitas SDM juga terus digalakkan, seperti sertifikasi lulusan SMK.
Pada kesempatan itu, ketua HIPMI Jatim, Ali Affandi mengatakan, salah satu modal kemenangan Jatim dalam menghadapi AFTA adalah pengusaha-pengusaha lokal yang berkualitas. Oleh sebab itu, ia menargetkan ada 100 pengusaha pemula di tiap kabupaten/kota di Jatim. Untuk mewujudkan itu, pihaknya membutuhkan kerjasama dengan pemerintah. “Kami juga menggandeng mahasiswa untuk mewujudkan target tersebut serta terus bersinergi dengan HIPMI kabupaten/kota untuk menggaet pengusaha-pengusaha baru. Mudah-mudahan bisa membantu pembangunan di Jatim. Kami berharap dapat bekerjasama dengan Pemprov, dan kami juga butuh saran dari Pakde untku kepungurusan kedepan” tuturnya














