SURABAYA-Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan super koridor berbasis Teknologi Informasi (TI). Hal ini bertujuan untuk mendukung sistem kontrol terhadap standarisasi barang yang bisa masuk ke Jatim saat era Asean Economic Community (AEC) yang akan dimulai 2015 mendatang.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo saat menerima kunjungan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (28/10).
Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim mengatakan, super koridor berbasis TI merupakan infrastuktur software yang didukung oleh brainware atau SDM terampil dalam bidang TI yang berfungsi untuk menerapkan “regulasi” standarisasi barang yang diperbolehkan masuk ke Jatim saat AEC 2015.
Super koridor tersebut ditargetkan dapat rampung pada tahun ini dan dapat diterapkan secara efektif pada 2015 mendatang. Keunggulan super koridor ini adalah dapat melakukan tracking system apabila ada barang yang melanggar regulasi yang diterapkan oleh pemerintah. “Setelah super koridor ini selesai, kita lakukan rekayasa teknologi agar frontline kita, seperti BPOM dan Disperindag bisa dengan tegas menerapkan karantina terhadap barang yang tidak bagus. Misalnya control terhadap buah-buahan impor, kita terapkan dulu standarnya, jika ada buah-buahan impor mengandung mercuri, toxin dan jamur yang berbahaya, maka buah-buahan itu tidak bisa masuk ke Jatim. Dan melalui tracking system secara online akan diketahui by name, siapa pengirimnya, operatornya, barangnya apa, jam berapa masuknya, ini sudah ter-record dengan jelas. Kemudian pengirim itu akan dipanggil dan jika membandel akan di blacklist by system. Inilah keunggulannya, system tidak bisa dicurangi oleh orang” jelasnya.














