“Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi konsensus karena para pendiri bangsa serta negara pada waktu itu memiliki cara berpikir yang terbuka, tidak sempit dan tidak ingin menang sendiri. Sudah semestinya, para generasi penerus juga membuka diri atas perubahan yang terjadi dengan tetap berpijak pada empat konsensus dasar nasional tersebut,” tegas Kurniawan Jati.

Sementara itu AM Putut Prabantoro dalam diskusi terbatas yang dipimpin Ketua Pemuda Katolik Komda Lampung, Marcus Budi S, menegaskan bahwa Pemuda Katolik harus belajar sejarah karena dari situlah semangat ketika organisasi ini didirikan tetap akan menyala. Organisasi yang didirikan 15 November 1945 harus terus menggelorakan semangat juang untuk mewujudkan Cita-cita dan Tujuan didirikannya negara Indonesia.
“Untuk mewujudkan cita-cita dan Tujuan negara Indonesia, Pemuda Katolik tidak bisa berdiri sendiri. Kalian harus bekerjasama dengan semua pihak. Tidak penting apakah kelak akan menjadi orang penting atau pejabat, namun yang harus dipahami kalian berkarya bukan untuk kekuasaan tetapi untuk mewujudkan Cita-cita dan mencapai Tujuan didirikannya negara Indonesia ini,” tegas Putut Prabantoro yang juga Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia).
Selain itu, Lulusan PPSA XXI – Lemhannas RI ini, mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan orang yang memiliki integritas, yang tidak asal berbicara, asal berdebat. Indonesia membutuhkan pemikir yang memiliki rasionalitas dalam berbicara agar tidak menimbulkan hoax. Oleh karena itu, sebagai organisasi, Pemuda Katolik harus memperkuat bidang Litbang dan menguasai kemajuan teknologi informasi.
“Berbicaralah menggunakan data yang benar. Data salah, cara menganalisanya benar, hasilnya tetap salah. Data benar, cara menganalisasnya salah, hasilnya masih salah. Yang benar adalah, data yang digunakan valid dan benar, cara pengambilan analisanya juga benar. Hasil dari kajian tersebut bisa diserahkan kepada pemerintah sebagai sumbangsih,” jelas Putut Prabantoro.














