Sedangkan Sekretaris Program Studi Agribisnis Dr. Iwan Aminudin berharap ajakan bertani terhadap kalangan anak muda mesti direspon positif. Karena bisnis sektor pertanian sangat menggiurkan. Hadir pula sejumlah pengusaha pertanian, Eva Tristianto sebagai pengusaha bunga anggrek yang beromzet diatas Rp1 Miliar, kemudian Johan Setiawan sebagai pengusaha kuliner.
Menurut Eva, bisnis anggrek awalnya adalah hobi keluarga. Namun kemudian bisnis ini menjadi usaha yang serius. “Saya juga sarjana pertanian dan belajar tentang pertanian, kebetulan keluarga juga sudah menekuni anggrek ini, saya ingin berwirausaha di bidang ini karena prospeknya sangat bagus,” ungkapnya.
Sedangkan Johan, yang menggeluti kuliner mengaku bisnis pertanian harus berani mengambil resiko dan keputusan. Karena penuh dengan tantangan yang cukup besar. “Saya dulu bekerja di perbankan, lebih tepatnya mungkin tersesat di perbankan,” kenangnya.
Dalam perjalanan bisnisnya, lanjut Jogan, akhirnya dirinya memberanikan diri berwirausaha kuliner. “alhamdulillah penghasilan saya lebih tinggi daripada gaji saya di Bank. Pada Desember 2018, ini saya akan membuka cabang yang ke-tiga,” ungkapnya.
Selanjutnya Dewi Rahmawati sebagai akademisi Agribisnis UIN Jakarta menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkan wirausahawan baru bidang pertanian ini adalah masalah pola pikir. “Seharusnya pemuda dari desa yang belajar di kota kembali ke desa untuk membangun, bukan bertahan di kota dan menjadi pekerja,” paparnya. Padahal, kata Dewi, kuliah adalah investasi masa depan dan bisa memberikan dampak dalam membangun desa dengan teknologi terbarukan dan lebih modern di desa-desanya. “Jangan sampai mahasiswa agribisnis yang sudah lulus masih bertahan di kota dan menjadi pekerja. Padahal sebenarnya dia adalah investasi dalam membangun desanya,” jelasnya lagi.














