Sementara itu, salah satu pasar terbesar di Asia lainnya, yaitu India, telah memiliki agenda reformasi yang kohesif dan konsisten sejak tahun 2014.
India memiliki siklus pertumbuhan yang baik dan saling terhubung.
Formalisasi bisnis dan digitalisasi yang terjadi di India, didukung oleh pasar domestik India yang besar dan insentif reinvestasi dari pemerintah mampu meningkatkan makroekonomi India, memberikan keuntungan yang lebih tinggi bagi perusahaan, meningkatkan belanja modal (capex), dan menciptakan pertumbuhan kredit yang lebih baik.
Samuel mengatakan, India akan mendapatkan keuntungan sebagai friend-shore manufaktur global.
Faktor pendukungnya antara lain karena upah industri manufaktur India sangat kompetitif, lebih rendah dibandingkan Malaysia, China, Taiwan, Vietnam, dan Filipina.
Selain itu, populasi pekerja di India diperkirakan akan melampaui Cina.
Jaringan transportasi India juga telah meningkat secara signifikan.
“Pada akhirnya, peningkatan ekspor neto India akan berdampak pada perbaikan transaksi berjalan negaranya, dan diperkirakan akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan global,” tegasnya.
Lebih lanjut Katarina memaparkan makroekonomi Indonesia.
Indonesia sendiri jelasnya memiliki fundamental perekonomian yang kuat.














