“Kami juga membukukan laba joint venture atas proyek pembangunan Bandara Dhoho Kediri yang berasal dari entitas anak kami, yaitu LMA sebagai kontraktor utama sekaligus menjadi lead of consortium sebesar Rp11,2 miliar pada triwulan pertama 2022,” ungkap Arif.
Arif menambahkan, peningkatan kinerja tersebut juga sesuai dengan peningkatan laba bersih sebesar 27%, dari Rp30,9miliar per Maret 2021 menjadi Rp39,2 miliar per Maret 2022.
“Posisi keuangan kami juga mengalami penguatan. Ini ditandai dengan peningkatan total aset sebesar 3,3%, dari Rp7,02 triliun per 31 Desember 2021 menjadi Rp7,26 triliun per 31 Maret 2022,” katanya.
Sementara itu, total utang PPRE naik 1,3%, dari Rp2,15 triliun per 31 Desember 2021 menjadi Rp2,18 triliun per 31 Maret 2022.
Ini seiring dengan pembiayaan belanja modal pembelian alat berat yang digunakan untuk mendukung pertumbuhan perolehan kontrak baru pada jasa pertambangan.
Perlu diketahui, sebesar 52,7% dari total kontrak baru tahun berjalan 2022 berasal dari jasa pertambangan.
Sektor jasa pertambangan membutuhkan dukungan ketersediaan alat berat dalam jumlah besar.
Adapun peningkatan total ekuitas PPRE sebesar 1,3%, dari Rp2,97 triliun per 31 Desember 2021 menjadi Rp3,01 triliun per 31 Maret 2022 seiring dengan peningkatan laba bersih Perseroan.














