JAKARTA-Komunikasi antara pemerintah mendatang dan rakyat Indonesia hendaknya dalam bentuk “memberi (giving)”. Apa yang tidak diperoleh penduduk Indonesia sebagai rakyat dari pemerintahan sebelumnya hendaknya dapat terwujud pada pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kala. Itulah Giving dari pemerintahan baru ini untuk rakyat. “Komunikasi tidak harus dalam bentuk verbal, yang lebih penting adalah dengan cara “memberi” apa yang seharusnya diterima rakyat Indonesia,” tegas Pendeta Fu Kwet Khiong M.A, dalam Dies Natalis Sekolah Tinggi Teologia Iman (STT Iman) Ke-33, Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/8), saat ditanya terkait dengan harapannya terhadap pemerintah Joko Widodo -Jusuf Kala mendatang.
Menurut Pendeta Fu, pemerintahan sebelumnya terlampau banyak berwacana tanpa wujud jelas dalam bernegara, berbangsa dan bermasyarakat rakyat Indonesia. Berulangkali pemerintah menyatakan pemerintah Indonesia mendukung pluralisme, keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika dll. Namun pada kenyataan, wujud dari komunikasi verbal itu tidak pernah ada. “Inilah yang saya sebut pemerintahan rencana alias wacana,” kritiknya.
Salah satu Bentuk wacana, pemerintah senantiasa berbicara melindungi rakyat miskin, menghargai kehidupan masyarakat yang beraneka ragam. “Akan tetapi, yang muncul adalah bentuk komunikasi minoritas dan mayoritas, suku berkuasa dan ras nomor dua, rakyat kelas elit dan masyarakat terpinggirkan,” ujarnya.













