Dalam perkiraan Freeport Indonesia, produksi Freeport pun ikut menurun. Inalum bisa hanya mendapat dividen di kisaran angka 390 juta dolar, tetapi itu 10 kali lipat dari diiven sebelumnya karena hanya mengontrol 9 persen saham Freeport.
Namun, yang perlu dicatat adalah tambang open-pit hanyalah 7 persen dari total cadangan Freeport. Cadangan terbesar sebesar 93 persen tambang Grasberg ada di tambang underground.
Mulai tahun 2021, Freeport akan menikmati produksi dari tambang underground yang dalam perkiraan mencapai 160.000-200.000 ton konsentrat tembaga.
Jika harga metal di pasar global naik, tentu itu akan menguntungkan Freeport dan INALUM sebagai pemegang saham.
INALUM ke depan bisa menikmati dividen seniai 1.3 miliar dolar dari tambang Grasberg, ini sesuatu yang sangat besar untuk bangsa dan negara.
Jadi kalau tidak diperpanjang sampai 2041 Kontraknya, Freeport tentu tak ingin berinvestasi di Grasberg dan tak ada guannya INALUM membeli saham Freeport Indonesia.
“Kita masih membutuhkan Freeport McmoRRan untuk pengelolahan tambang Grasberg yang membutuhkan teknologi dan infrastruktur canggih. Kita belajar teknlogi dari mereka, kita harus belajar banyak bagaimana mengolah tambang sekelas Grasberg,” ujarnya.













