Seperti pada peristiwa Rengasdengklok yang dipelopori oleh para pemuda.
Pada saat ini para pemuda sudah jarang ingin menjadi petani tetapi lebih memilih bekerja sama dengan desa dalam memberikan inovasi-inovasi terbaru untuk memajukan suatu desa.
Sama seperti Network Society Indonesia yang memiliki peran pengembangan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal di desa.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Pemerintah Desa seluruh Indonesia (APDESI) Surta Wijaya menyatakan pendidikan formal pada para pemuda menjadi salah satu potensi dalam memajukan desa.
“Melalui Pendidikan formal para pemuda memiliki etika dan wawasan yang baik,” terangnya.
Sementara itu, Guru Besar Komunikasi Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Emeritus. Dr. Samsudin A. Rahim mengatakan, sebelum generasi muda membangun desa, karakter diri mereka harus dibangun terlebih dahulu agar mampu berfikir positif dan dapat menghadapi tantangan yang akan datang.
Cara mengetahui potensi para pemuda dapat terlihat dari minat mereka.
“Dan yang terpenting dalam pembentukan jati diri serta kemahiran pemuda dapat diisi dengan kegiatan-kegiatan positif sebagai bekal untuk pembangunan desa mereka,” ungkapnya.
Tantangan global dalam membangun desa melalui kreativitas kaum muda harus mengikuti tren dunia seperti sumber daya manusia yang inovatif dan harus cepat merespon perubahan.













