“Saran saya adalah presiden terpilih harus dapat memberikan alternatif dalam penyelesaian konflik yang ada, dengan mengedepankan kepentingan nasional. Penyelesaian konflik yang ada sekarang masih befokus pada pilihan yang hanya menguntungkan negara-negara maju, tapi tidak negara-negara berkembang,” tukasnya.
Beberapa isu yang perlu diperhatikan presiden mendatang antara lain; perdagangan internasional, pengungsi Rohingya, lingkungan dan hak asasi manusia (HAM).
Hal tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan industrialisasi, investasi asing untuk membangun ekonomi Indonesia, dan persepsi demokrasi Indonesia di mata negara-negara lain di dunia.
Peraih gelar Magister Hukum (LL.M) dari Washington College of Law, American University itu menilai, bahwa beberapa isu tersebut tidak direspons dengan baik pada masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).
Posisi Indonesia, menurutnya, seringkali ambigu karena terlalu fokus pada masalah nasional, tapi kepentingan nasional tidak terefleksikan dalam diplomasi.
Visi Misi
Pasangan capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD dalam visi misinya menyebut: Mempercepat peningkatan peran Indonesia dalam mewujudkan tata dunia baru yang lebih berkeadilan melalui politik luar negeri bebas aktif dan memperkuat pertahanan negara.
Kemudian, berperan sentral dalam menata dunia baru yang mencakup: koeksistensi geopolitik progresif, perjanjian internasional 100% untuk kepentingan nasional (mengutamakan produk dalam negeri, daya saing).
Selanjutnya, kedaulatan NKRI dengan Sistem Pertahanan 5.0.
Adapun paslon nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dalam misi poin ketujuh menyebut memperkuat sistem pertahanan dan keamanan negara, serta meningkatkan peran dan kepemimpinan Indonesia dalam kancah politik global untuk mewujudkan kepentingan nasional dan perdamaian dunia.














