Dalam menerapkan transformasi industri 4.0, Rizal mengakui bahwa Indonesia harus mengedepankan lima faktor utama untuk bisa menerapkan era transformasi industri 4.0.
Rizal mengatakan, faktor pertama yang perlu dimiliki yakni adanya aspirasi maupun arahan (direction) yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut.
Kedua, yaitu perlu ada sektor prioritas dan juga teknologi utama yang harus dikembangkan.
Dia mengambil contoh Jerman, yang telah fokus pada internet of things dan juga cyber physical system.
Ketiga yaitu perlu adanya sumber pembiayaan.
Menurut dia, harus ada modal pada saat replacement dari pergantian zaman, seperti pada era industri 2.0 ke industri 3.0 dan ke industri 4.0, maupun seterusnya.
“Diperlukan investasi replacement sekitar 40 sampai 50 persen dari pembiayaan. Keduanya adalah pembiayaan untuk research and development. Ini sangat diperlukan untuk keberhasilan dari pada industri 4.0, peranan riset and development,” terangnya.
Keempat, keberhasilan industri 4.0 merupakan agenda nasional, bukan hanya milik pemerintah, tapi juga pihak swasta dan seluruh stakeholder.
“Ini yang harus disadari,” kata Rizal.
Terakhir, Rizal, juga menyoroti kesiapan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk masuk ke era industri 4.0. Termasuk yang memiliki low skill labour atau tenaga kerja dengan kemampuan rendah.















