JAKARTA-Industri batik terus tumbuh seiring dengan penobatan batik sebagai identitas nasional dan diekspor ke pasar global. Sayangnya, pelaku batik mengeluhkan kurangnya bahan baku penguat warna yaitu gondorukem.
Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengungkapkan, industri kecil menengah (IKM) batik mulai kesulitan mendapatkan getah pohon pinus ini. Pasalnya, banyak yang diekspor gara-gara banyaknya negara yang memproduksi batik. “Untuk mencukupinya, kita memfasilitasi mesin untuk memanfaatkan limbah proses pengolahan gondorukem. Kita bisa proses kembali menjadi gondorukem yang bisa digunakan untuk keperluan industri batik,” kata Saleh pada sambutannya di Gelar Batik Nusantara (GBN), JCC, Jakarta, Rabu (24/6).
Saat ini jelasnya, produksi gondorukem nasional hanya 80 ribu ton per tahun dan dipasok dari PT. Inhutani I dan III di Sumatera dan Sulawesi. Sedangkan kebutuhan dalam negeri 70 ribu ton per tahun, namun ada kekurangan sekitar 20.000 ton per tahun karena sebagian produksi gondorukem banyak diekspor. “Hingga kini, tercatat IKM batik sebanyak 39.641 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 916.783 orang,” paparnya.
Sementara, nilai produksi batik sebesar USD 39,4 Juta serta total ekspor sebesar USD 4,1 Juta.














