Menteri Saleh Husin juga mencermati pemasaran ke luar negeri yang mesti dipacu. Untuk itu, dia mendorong industri keramik meningkatkan kapasitas dan daya saing sehingga diharapkan dapat mengisi pasar ekspor, karena sektor tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan di dalam negeri. “Industri keramik nasional kita unggul dibandingkan negara lain, karena tersedia deposit tambang sebagai bahan baku keramik yang cukup besar dan tersebar di berbagai daerah seperti ball clay, feldspar dan zircon, maupun ketersediaan energi gas yang melimpah sebagai bahan bakar proses produksi,” katanya.
Menperin meyakini prospek industri keramik nasional dalam jangka panjang masih cukup besar seiring dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkat, terutama untuk jenis tile/ubin karena didorong pertumbuhan properti dan perumahan.
Apalagi, konsumsi keramik perkapita yang masih rendah sekitar 1 m2 dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya sudah di atas 2 m2. “Dengan jumlah penduduk 250 juta serta prospek pembangunan properti dan konstruksi menandakan akan terbukanya peluang pasar yang perlu dimanfaatkan,” harapnya.
Langkah Strategis
Menperin Saleh Husin juga menegaskan, pemerintah terus melakukan berbagai strategi kebijakan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan industri keramik. Antara lain mendorong terjaminnya kontinuitas pasokan gas dengan harga yang kompetitif, penguasaan teknologi dan fabrikasi, serta meningkatkan promosi ke pasar ekspor. “Perlu juga disusun standar kompetensi untuk SDM industri keramik serta melakukan pelatihan dengan mengundang para ahli di bidang keramik dari dalam maupun luar negeri,” tegas Menperin.














