Sedangkan, peringkat ekspor barang kreatif Indonesia tumbuh menjadi peringkat 25 di tahun 2014 dari peringkat 85 di tahun 2013. Data statistik menunjukkan kontribusi industri kreatif terhadap PDB dari tahun ke tahun terus meningkat.
Pada tahun 2013 sebesar 6,9 persen, lalu meningkat menjadi 7,6 persen pada tahun 2014, dan tahun ini diperkirakan mencapai 8-9 persen.
Sampai dengan Juni 2015 jelasnya, sumbangan industri kreatif terhadap PDB telah mencapai 6,3 persen, atau mencapai Rp 104,73 triliun. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan dengan laju pertumbuhan ekspor sebesar 11,81 persen. Kemudian, disusul oleh produk fesyen dengan pertumbuhan 7,12 persen, periklanan sebesar 6,02 persen, dan arsitektur 5,59 persen.
Saleh optimistis, industri kreatif ini semakin berkembang seiring perlindungan pemerintah yang dilakukan melalui pendekatan Indikator Geografis. Akhir September lalu, enam kementerian menandatangai nota kesepahaman tentang perlindungan dan pengembangan potensi produk indikasi geografis.
Secara garis besar terangnya, indikasi geografis dipahami sebagai penggunaan nama lokasi di mana sebuah produk diproduksi atau terkait lokasi yang identik dengan produk. Contohnya, Tenun Ikat Rote, Kain Songket Palembang, Kue Lapis Talas Bogor, Batik Jogja, Kopi Arabika Kintamani Bali, Mebel Ukir Jepara dan lain-lain.













