“Salah satu contohnya, para investor dari China membangun kawasan industri baru di Sulawesi Tengah, yang selama lima tahun ini telah berinvestasi sebanyak USD5 miliar dan ekspor dari lokasi tersebut sudah mencapai USD4 miliar,” paparnya.
Menurut
Menperin, selain ada penambahan investasi baru, perang dagang AS-China
juga membawa dampak bagi pelaku industri di Indonesia untuk memacu
utilitas atau kapasitas produksinya dalam upaya mengisi pasar ekspor ke
dua negara tersebut.
“Kita telah ekspor baja ke AS, sehingga harapannya bisa memasukkan lebih banyak lagi produk itu,” tuturnya. Pada Januari-November 2018, ekspor besi dan baja RI keASmelonjak hingga 87,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan total ekspor RI ke AS tercatat tumbuh 3 persen pada periode yang sama.
Airlangga mengemukakan, kerja sama ekonomi RI-AS selama ini bersifat komplementer guna saling memenuhi kebutuhan pasar dan sektor manufaktur masing-masing negara. Bahkan, dengan adanya era ekonomi digital baru dari AS, juga ikut membuka peluang pengembangan di Indonesia.
“Misalnya, kami
sudah mendapat investasi berupa Apple Developer Academy. Pemerintah
juga menjajaki peluang pembangunan data center di Indonesia,” ungkapnya.














