Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata pertumbuhan kredit sepanjang 2024 sebesar 10,4 persen (yoy). Di sisi lain, data OJK per Januari 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit (yoy) sebesar 10,3 persen di mana lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Prediksi Office of Chief Economists Perbanas pada tahun sebelumnya sejalan dengan realisasi pertumbuhan kredit 2024 yaitu sebesar 10,4 persen (yoy),” ujar Aviliani.
Perbanas pun berharap, momentum bulan Ramadan kali ini dapat mendongkrak pertumbuhan kredit (yoy). Hal ini sebagaimana terjadi pada tahun sebelumnya di mana pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada periode Maret-April sebesar 12 persen hingga 13 persen.
Ia juga menjelaskan bahwa siklus kredit masyarakat biasanya dipengaruhi oleh tiga periode antara lain Ramadan dan Idul Fitri, periode awal masuk sekolah (Juni-Juli), serta periode Natal dan Tahun Baru.
Selama periode Ramadan, ujar Aviliani, pertumbuhan kredit konsumsi secara bulanan (month to month/mtm) biasanya meningkat cukup signifikan. Bahkan tahun 2024 di periode ini tercatat sebagai angka tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya sebesar 1,47 persen (mtm).
Namun, setelah Idul Fitri masyarakat cenderung mengurangi konsumsi sehingga pertumbuhan kredit konsumsi (mtm) ikut turun drastis, selalu tergolong terendah dibanding bulan-bulan lainnya.















