Karena itu, Wapres berharap melalui teknologi kondisi ideal perbankan di tanah air dapat tercapai.
“Pada krisis moneter ialah terlalu mudah memberikan ijin bank sehingga jumlah bank waktu itu di tahun 1998 sebanyak 230 bank, saat ini berjumlah sekitar 118, saya kira yang ideal sekitar 30 sampai 40 bank, merger secara alamiah akan terjadi karena bisnis itu kepercayaan dan teknologi,” jelas Wapres.
Lebih lanjut Wapres menjelaskan bahwa ke depannya semua akan mengalami perubahan, akan ada yang kehilangan baik bisnis maupun pekerjaan, tetapi juga akan timbul bisnis dan pekerjaan baru.
“Dulu waktu sulit telepon, yang ramai adalah usaha warung telekomunikasi (wartel), sudut-sudut jalan sampai lorong ada wartel dan paling ramai pada tengah malam karena harganya murah. Namun, begitu ada handphone wartel mati termasuk telpon umum, tapi yang muncul yang baru adalah penjual pulsa, dimana-mana ada kios penjual pulsa, lama-lama penjual berkurang karena sekarang sudah ada komunikasi melalui whatsapp,” contohnya.
Untuk mengantisipasi itu semua, Wapres menekankan pentingnya proses rethinking, evaluasi dan reorientasi dari semua keperluan bisnis yang terjadi saat ini.
Dalam kesempatan tersebut, Wapres mengucapkan selamat kepada Perbanas yang telah 50 tahun mengembangkan SDM dan berharap agar Perbanas terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikannya dengan melibatkan teknologi terkini.















