Di India, studi Beaman et al. (2012) mencatat bahwa desa-desa yang dipimpin perempuan menunjukkan akuntabilitas pengeluaran publik 20% lebih tinggi dibandingkan desa yang dipimpin laki-laki.
Fenomena ini bukan kebetulan.
Sosialisasi gender pada perempuan seringkali menanamkan nilai kehati-hatian, empati, dan tanggung jawab kolektif—nilai-nilai yang memperkuat integritas.
Bahkan di sektor bisnis, penelitian Peterson Institute (2016) menunjukkan bahwa perusahaan dengan lebih dari 30% perempuan di jajaran direksi mengalami kebocoran anggaran 15% lebih rendah dibandingkan perusahaan yang dikelola laki-laki secara eksklusif.
Bank Dunia (2021) menghitung bahwa ketimpangan partisipasi ekonomi antara laki-laki dan perempuan menyebabkan kerugian global hingga $160 triliun.
Sebaliknya, jika kesenjangan ini ditutup, negara-negara berkembang berpotensi mengalami lonjakan PDB per kapita hingga 20% dalam satu dekade.
Norwegia menjadi contoh, di mana kebijakan kuota 40% perempuan di dewan perusahaan menghasilkan lonjakan produktivitas korporasi sebesar 10% hanya dalam lima tahun.
UN Women (2020) juga mencatat bahwa 70% anggaran yang dikelola perempuan di tingkat lokal digunakan untuk sektor pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial—sektor-sektor fundamental dalam pembangunan manusia.














