Di Indonesia, riset LPEM UI (2023) menemukan bahwa daerah dengan kepala desa perempuan memiliki tingkat partisipasi sekolah anak perempuan 12% lebih tinggi dan prevalensi stunting 8% lebih rendah dibanding daerah lainnya.
Kritik klasik yang menyebut perempuan “tidak tegas” atau “terlalu emosional” tidak didukung oleh data.
Studi Harvard Business Review (2021) terhadap 60.000 pemimpin di 10 negara menunjukkan bahwa perempuan lebih unggul dalam 13 dari 16 kompetensi kunci, termasuk kemampuan berkomunikasi, berpikir strategis, serta mengelola krisis.
Selama pandemi COVID-19, negara-negara yang dipimpin perempuan seperti Selandia Baru dan Taiwan terbukti mampu menekan tingkat kematian hingga 40% lebih rendah dari rata-rata global.
Kartini tidak pernah duduk di kursi kekuasaan, tapi gagasan-gagasannya menjadi fondasi perjuangan perempuan Indonesia hari ini.
Kini saatnya kita menerjemahkan semangat Kartini ke dalam kebijakan nyata dan strategi pembangunan jangka panjang, seperti:
1. Kuota Progresif: Meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen dari 30% menuju 50%, seperti yang diterapkan Uni Emirat Arab.
Representasi yang seimbang menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
2. Akses Pendanaan untuk UMKM Perempuan: Hanya 2% usaha perempuan di Indonesia yang mendapat akses kredit formal (OJK, 2023).














