“Lihat saja program pembangunan pemukiman baru terus berlangsung, meski sudah ada resolusi PBB. Serangan militer terhadap kelompok sipil berlangsung hampir tiap hari dan sepi dari pemberitaan. Bahkan, Israel semakin berani mengklaim masjid Al-Aqsha sebagai wilayah suci yang berhak dimasuki warga Yahudi,” jelas Mahfuz lagi.
Dengan demikian, kondisi dalam negeri Palestina, baik di Tepi Barat maupun Gaza sangat berat secara ekonomi.
Krisis keuangan, pangan, pengangguran dan juga gangguan keamanan semakin meningkat.
Hal itu tentu saja bisa memicu radikalisme lanjutan menuju konflik terbuka dengan Israel.
Bukan mustahil, situasi ini justru ditunggu oleh Israel. Perang terbuka Israel vs Palestina di tengah situasi dunia Islam – khususnya Negara-negara Timur Tengah sedang sibuk dengan konflik yang lain.
“Di sinilah letak urgensi dan pentingnya Konferensi Luar Biasa OKI yang ke-5 tentang Palestina dan Al-Quds,” tambahnya.
Karena itu, Konferensi OKI ini harus mampu mengkonsolidasikan kembali perhatian dan dukungan Negara-negara anggota OKI terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.
Juga harus mampu meletakkan peta jalan baru menuju Palestina Merdeka.
Tidak cukup hanya dengan deklarasi atau resolusi. Tapi komitmen dan langkah aksi bersama mengatasi berbagai persoalan yang ada.














