Sementara itu, kerja sama strategis antara PT Freeport Indonesia dan PT Antam untuk memasok emas domestik sebesar 30–50 ton per tahun menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketersediaan pasokan dan nilai ekonomi di dalam negeri.
Panel juga menekankan pentingnya interoperabilitas data dan keterlacakan rantai pasok global yang diinisiasi International Chamber of Commerce (ICC) guna menciptakan transparansi, meningkatkan kepercayaan, dan menarik investasi berkelanjutan.
Di sisi lain, PT Krakatau Steel menegaskan kontribusi besar sektor baja terhadap perekonomian nasional, di mana setiap satu dolar investasi mampu menghasilkan nilai tambah hingga 2,5 kali lipat di rantai pasok dan 13 kali lipat di sektor terkait, serta membuka lapangan kerja dengan tetap memperhatikan roadmap lingkungan.
Melalui hilirisasi mineral yang berorientasi hijau, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif hingga 8 persen, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pusat investasi berkelanjutan di kawasan dan dunia.
Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra global diharapkan dapat memperkuat nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, memastikan tata kelola yang bertanggung jawab, serta menjadikan Indonesia sebagai poros utama ekonomi hijau di era transisi energi global.














