JAKARTA,BERITAMONETER.COM –Bank Indonesia (BI) memperkuat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking) mulai 1 Desember 2025, yang diprediksi menambah insentif likuiditas sekitar Rp18,5 triliun.
KLM yang efektif pada bulan depan tersebut diberikan kepada bank yang berkomitmen menyalurkan kredit/pembiayaan kepada sektor tertentu (lending channel) dan menetapkan suku bunga kredit/pembiayaan yang sejalan dengan arah suku bunga kebijakan BI (interest rate channel).
“Implementasi penguatan KLM tersebut diprakirakan dapat memberikan tambahan insentif likuiditas sekitar Rp18,5 triliun dari insentif KLM saat ini,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers hasil RDG BI November 2025 di Jakarta, Rabu.
KLM merupakan insentif yang diberikan melalui pengurangan giro bank di BI dalam rangka pemenuhan giro wajib minimum (GWM) yang wajib dipenuhi secara rata-rata.
Berbeda dengan insentif KLM sebelumnya yang backward looking, insentif per Desember 2025 lebih bersifat forward looking terutama karena bank harus menyampaikan laporan komitmen rencana penyaluran kredit kepada bank sentral.
Pada KLM terbaru, total besaran untuk insentif yang berbasis komitmen penyaluran kredit (lending channel) yakni paling tinggi sebesar 5 persen dari DPK.














