Lebih lanjut Suwandi menyatakan upaya yang dalam meningkatkan hasil panen menstabilkan harga jagung yakni dengan mengoptimalkan aspek hilir yakni penanganan pasca panen, yakni alat panen, dryer (pengering) dan silo.
Penyiapan aspek hilir ini tentunya tidak hanya dilakukan Kementan, namun juga dari petani jagung sendiri dan industri pakan dan peternak mandiri dengan membangun pola kemitraan.
Selain itu yang harus dibenahi adalah sistem logistiknya karena sentra-sentra produksi tidak bersinergi dengan sentra industri pakan ternak.
“Sentra industri pakannya ada di sini, sementara yang panen kebanyakan di NTB, Sulawesi Tenggara dan di luar Jawa lainnya,” terangnya.
Sedangkan Yoyok Pitono menuturkan, kemitraan yang dimaksud tidak hanya antara dua pihak saja seperti antara petani dan peternak.
Kemitraan yang diharapkan bisa tercipta adalah dengan melibatkan pihak offtaker, produsen pakan ternak dan kementerian lain.
“Hal ini penting karena dalam ekosistem, kestabilan harga di hulu maupun di hilir ditentukan oleh arus rantai pasok. Jika bisa berjalan dengan stabil, maka tidak akan ada ketimpangan harga. Kalau sampai terjadi, efeknya akan segera meluas ke pedagang ayam dan kuliner hingga ke naiknya harga kebutuhan sehari-hari”, ungkap Yoyok.














