Sementara itu, Nunik Sri Murtini menuturkan, kebutuhan jagung masih didominasi untuk pakan ternak, lalu makan dan minuman.
“Nah, kami berkonsentrasi untuk pemenuhan pakan. Saat ini, yang kami utamakan adalah pemenuhan untuk para peternak lokal mandiri,” terangnya.
Terlebih, saat ini Indonesia tidak lagi mengimpor benih jagung.
Penangkaran benih sudah dilakukan di Indonesia, disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia, meskipun brand-nya masih menggunakan brand asing.
Hal ini seharusnya menjadi patokan pemerintah bahwa perlu ada peninjauan ulang terhadap rantai pasok pertanian ke peternakan untuk menghindari ketidakstabilan harga seperti yang tengah terjadi saat ini”.
Sedangkan Suwardi berharap pemerintah dapat lebih tegas dan lebih konkret dalam menangani kasus semacam ini.
“Kami peternak berharap Pemerintah dapat membantu menjaga kestabilan stok jagung dengan pendirian Lumbung Jagung di daerah sentra jagung maupun sentra peternakan unggas. Selain itu, perlu ada pengadaan stok cadangan jagung agar bisa dilakukan operasi pasar ketika harga jagung melonjak tinggi. Kemudian didukung dengan meneruskan program bantuan transportasi distribusi jagung yang sekarang sedang berlangsung agar dapat menjadi program berkelanjutan,” ungkapnya.













