JAKARTA-Pemerintah harus berani melakukan perubahan fundamental pada kebijakan utang luar negeri agar anak cucu bangsa Indonesia tidak lagi terbebani utang di masa depan.
Sebab jika tidak ada keberanian maka pemerintahan akan dicatat dalam sejarah sebagai pemerintahan yang doyan utang dan mewariskan beban bagi generasi mendatang.
“Saya kira, perlu prinsip kehati-hatian (prudent) dalam utang luar negeri karena menjadi beban yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat,” ujar anggota Komisi XI DPR, Abdilla Fauzi Achmad di Jakarta, Jumat (15/3).
Menurut dia, utang akan menjadi masalah terbesar dalam ekonomi Indonesia dimasa mendatang. Dengan bertambahnya utang maka bertambah juga beban APBN.
Karena pembayaran bunga dan cicilan utang selama ini bersumber dari APBN.
“Utang luar negeri Indonesia akan tetap dibayarkan hingga beberapa ke depan. Sederhananya, utang yang ditandatangani sekarang ini, digunakan sekarang ini, dihabiskan tahun ini. Tetapi yang membayar kemudian adalah anak cucu kita semua,” jelas dia.
Kondisi ini ujar Fauzi sangat memprihatinkan kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang makin bergantung kepada asing.
Meski secara hukum, pemerintah diperbolehkan berutang dalam membiayai APBN, kebiasaan berutang harus diakhiri agar tidak keterusan keranjingan utang.













