JAKARTA-Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Nus Nuzulia Ishak menyatakan optimismenya untuk kembali melakukan penetrasi ke pasar furnitur Amerika Serikat (AS).
Pasalnya, permintaan importir furnitur nomor wahid tersebut meningkat tajam.
“Indonesia berpotensi untuk terus meningkatkan pangsa pasar produk furnitur di AS. Kuncinya rajin membaca tren furnitur di AS dan, tentu saja, gencar berpromosi,” jelas Nus.
Saat ini, momentum yang tepat untuk meningkatkan ekspor furnitur. Karakteristik pasar AS yang memiliki empat musim akan menjadi peluang pasar bagi pengusaha furnitur Indonesia untuk meningkatkan ekspornya dengan membuat produk yang sesuai dengan karakter pasar AS tersebut.
Selain itu, furnitur asal Tiongkok terkena bea anti-dumping sehingga produk Indonesia dapat bersaing lebih baik.
“Produk furnitur asal Tiongkok ke pasar AS hingga kini masih dikenakan bea anti-dumping sangat tinggi, yaitu sekitar 100%, khususnya produk bedding furniture,” tutur Nus.
Potensi tersebut diwujudkan Ditjen PEN bersama Atase Perdagangan Washington DC, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles, dan ITPC Chicago lewat promosi Summer Las Vegas Market (LVM) 2015 pada 2-6 Agustus 2015 mendatang di Las Vegas, Nevada, AS.














