Kemenperin
mencatat, pada tahun 2014 dengan adanya momentum Pemilu, industri
pengolahan naik menjadi 5,61 persen dibanding capaian tahun sebelumnya
sebesar 5,45 persen. Adapun sektor yang menopang lonjakan tersebut,
antara lain industri mamin, industri TPT, serta industri kulit, barang
dari kulit, dan alas kaki.
“Kondisi
perekonomian sekarang memang sudah jauh berbeda jika dibandingkan
dengan tahun 2000-an. Artinya, ada realita norma baru. Pertumbuhan
ekonomi dunia saat ini tidak lagi double digit. Rata-rata kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian di seluruh negara berkisar 17 persen,” paparnya.
Merujuk data World Bank Tahun 2017, lima negara yang industrinya mampu menyumbang di atas rata-rata tersebut, yakni China (28,8%), Korea Selatan (27%), Jepang (21%), Jerman (20,6%), dan Indonesia (20,5%).
“Pertumbuhan di China saat ini juga single digit. Sekarang PDB kita sudah masuk klub USD1 triliun. Indonesia adalah negara besar, saat ini berada dalam kelompok G20 dan berada di peringkat ke-16 ekonomi dunia,” jelasnya.
Menperin
memprediksi, di tahun 2019, industri pengolahan nonmigas akan tumbuh
hingga 5,4 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi yang dipatok pada
angka 5,3 persen. Sektor industri yang memberi kontribusi tinggi, di
antaranya industri mamin bakal tumbuh sebesar 9,86 persen.














