Menperin menyebutkan, pabrik petrokimia yang akan segera dibangun ini akan memiliki kapasitas produksi dua kali lipat dari pabrik yang sudah eksisting di Cilegon, yakni sekitar 1,2 juta ton per tahun.
Pabrik baru itu, dinilainya, selain menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah, hasil produksinya nanti juga untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
“Produksinya itu akan lengkap, mulai dari nafta cracker, ethylene dan propylene, hingga polyethylene dan polypropylene,” tutur Airlangga.
Kementerian Perindustrian mencatat, nafta cracker dari produksi industri nasional sebanyak 900 ribu ton per tahun, sementara permintaan dalam negeri mencapai 1,6 juta ton. Sedangkan, Singapura sudah memproduksi 3,8 juta ton dan Thailand 5 juta ton per tahun.
Untuk itu, lanjut Menperin, pemerintah memberikan apresiasi terhadap investasi SCG tersebut dan akan berupaya memfasilitasi pemberian tax holiday. Insentif pajak tersebut akan diberikan dengan pertimbangan nilai investasi yang cukup besar serta dapat menghemat devisa negara karena hasil produksinya untuk substitusi bahan baku impor.
Sebelumnya, Roongrote Rangsiyopash menyampaikan, pihaknya telah memilih Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi terbesarnya di kawasan ASEAN. Keyakinannya itu karena pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini semakin membaik dengan didukung berbagai kebijakan pemerintah untuk memberi kemudahan berusaha bagi para investor.“Kami sampaikan, kami sangat senang dengan ekonomi Indonesia yang baik yang juga diiringi dengan peraturan yang mendukung dan situasi politik yang stabil,” ungkapnya.














