JAKARTA-Sejalan dengan ekspektasi pada bulan Juli lalu, hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2014 menunjukkan pertumbuhan penjualan eceran yang melambat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2014 sebesar 9,0% (yoy), lebih rendah dari 19,2% (yoy) pada bulan sebelumnya seiring dengan kembali normalnya konsumsi masyarakat paska hari raya Idul Fitri.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan perlambatan pertumbuhan terutama didorong oleh penurunan pertumbuhan penjualan kelompok barang lainnya dari 8,9% (yoy) menjadi sebesar -16,4% (yoy) dan kelompok makanan, minuman dan tembakau dari 25,2% (yoy) menjadi 11,0% (yoy). Perlambatan terjadi pada mayoritas kota yang disurvei, dengan perlambatan terbesar dialami oleh kota Semarang yang terkontraksi 8,4% (yoy) dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 40,6% (yoy). “Penjualan eceran diperkirakan kembali meningkat pada September 2014 didorong oleh optimisme terhadap perbaikan daya beli masyarakat dan distribusi barang yang lancer,” jelasnya di Jakarta, Rabu (8/10).
Dia menjelaskan survei juga mengindikasikan bahwa ekspektasi terhadap tekanan harga pada 3 bulan mendatang (November 2014) diperkirakan meningkat. Indikasi ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang tercatat sebesar 152,0 atau naik 21,6 poin dibandingkan IEH hasil survei pada bulan sebelumnya. “Meningkatnya ekspektasi tersebut antara lain dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kenaikan harga barang dari distributor. Di sisi lain, pada 6 bulan mendatang (Februari 2015), IEH diperkirakan turun menjadi 135,1 dari bulan sebelumnya yang sebesar 139,7,” pungkasnya.











